Sunday, March 31, 2013

Krisis Ustadz

Kian hari kyai..ustaz..guru ngaji..guru sakola agama kian hilang dr kampung cilendi..ada yang meninggal dunia..ada yg merantau demi memperbaiki tarap hidup..ada jua yg dipecat..kini di cilendi hanya tersisa seorang ustadz..yg merangkap guru ngaji..guru madrasah..khotib jumat..
Saya tak bisa bayangkan seandainya satu satuny ustadz yg tersisa ada halangan tuk menjalankn tugas nya dikampung cilendi..
Apakah jumatan libur jua..apakah murid madrasah jd buta baca tulis alquran..hmm sudah kah para pamong cilendi gegeden cilendi..memikirkan ini jua..jgn hanya sibuk mikirin karier n keluRga sendiri..sibuk nyalon jd anggota dewan..tp lupa akan nasib akidah generasi cilendi..yg bukan tidak mungkin akan semakin asing dr ilmu agama..apakah ini pertanda bhw suatu saat nanti islam jua akan hilang dr bumi cilendi..seperti di cordoba spayol...
Sebetulnya klo urang cilendi (Pamong n gegeden) na bisa melihat dengan sudut pandang yang berbeda( bahasa jermanna mah tong ninggali cangkangna mungkul) masih banyak urang cilendi anu bisa di manfaatken elmu jeng pangabisana jang ngajarken elmu agama ka barudak cilendi penerus generasi islami di masa depan..tapi sayang para pamong jeng gegeden cilendi hanya meliat pantat ayamnya saja bukan apa yang keluar dari itu pantat..maksud ane..klo emang yang keluar dari pantat ayam itu tai kotok..ya jauhi n buang saja..tapi klo yang keluar dari pantat ayam itu endog atawa telur..ya ambil tong ningali najis bujur hayamna.. jadi inget keur ngalalana jaman baheula dalam rangka mencari jatining diri..ane guguru teh ka budak leutik diajar tentang kajujuran..guguru ka nu gelo untuk ilmu tahan lapar jeng tahan penyakit..guguru ka aki aki tentang pengalaman..guguru ka kiyai tetang ilmu agama..guguru ka manuk piit nu sanajan manukna leutik tapi bisa nyien imah alus tibatan heulang atawa tikukurmah..
Jadi intina jelma teh tong sok di tempo luaranna wungkul..ari manehna bisa memberi nasihat baik mengapa berat tuk menurutinya..da hate jelema mah hanya manehna jeng gusti alloh nu nyaho jadi tong sok kokolot begog ngahukuman batur..si anu calon naraka,sim kuring calon surga,,sifulan raja gosip..si anu hayang kapuji,sianu ria,si anu cerewet bari poho pas nunjuk batur goreng teh opat jarina nunjuk kadiri sorangan..hehehe

Thursday, October 11, 2012

Menjual Keperawanan

Wanita itu berjalan agak ragu memasuki hotel berbintang lima. Sang petugas satpam yang berdiri di samping pintu hotel menangkap kecurigaan pada wanita itu. Tapi dia hanya memandang saja dengan awas ke arah langkah wanita itu yang kemudian mengambil tempat duduk di lounge yang agak di pojok. Petugas satpam itu memperhatikan sekian lama, ada sesuatu yang harus dicurigainya terhadap wanita itu. Karena dua kali waiter mendatanginya tapi, wanita itu hanya menggelengkan kepala. Mejanya masih kosong. Tak ada yang dipesan. Lantas untuk apa wanita itu duduk seorang diri. Adakah seseorang yang sedang ditunggunya. Petugas satpam itu mulai berpikir bahwa wanita itu bukanlah tipe wanita nakal yang biasa mencari mangsa di hotel ini. Usianya nampak belum terlalu dewasa. Tapi tak bisa dibilang anak-anak. Sekitar usia remaja yang tengah beranjak dewasa. Setelah sekian lama, akhirnya memaksa petugas satpam itu untuk mendekati meja wanita itu dan bertanya: '' Maaf, nona ... Apakah anda sedang menunggu seseorang? '' Tidak! '' Jawab wanita itu sambil mengalihkan wajahnya ke tempat lain. '' Lantas untuk apa anda duduk disini? '' Apakah tidak boleh? '' Wanita itu mulai memandang ke arah sang petugas satpam. '' Maaf, Nona. Ini tempat berkelas dan hanya diperuntukan bagi orang yang ingin menikmati layanan kami.'' '' Maksud, bapak? '' Anda harus memesan sesuatu untuk bisa duduk disini '' '' Nanti saya akan pesan setelah saya ada uang. Tapi sekarang, izinkanlah saya duduk disini untuk sesuatu yang akan saya jual '' Kata wanita itu dengan suara lambat. '' Jual? Apakah anda menjual sesuatu disini? '' Petugas satpam itu memperhatikan wanita itu. Tak nampak ada barang yang akan dijual. Mungkin wanita ini adalah pramuniaga yang hanya membawa brosur. '' Ok, lah. Apapun yang akan anda jual, ini bukanlah tempat untuk berjualan. Mohon mengerti. '' '' Saya ingin menjual diri saya, '' Kata wanita itu dengan tegas sambil menatap dalam dalam kearah petugas satpam itu. Petugas satpam itu terkesima sambil melihat ke kiri dan ke kanan. '' Mari ikut saya, '' Kata petugas satpam itu memberikan isyarat dengan tangannya. Wanita itu menangkap sesuatu tindakan kooperativ karena ada secuil senyum diwajah petugas satpam itu. Tanpa ragu wanita itu melangkah mengikuti petugas satpam itu. Di koridor hotel itu terdapat korsi yang hanya untuk satu orang. Di sebelahnya ada telepon antar ruangan yang tersedia khusus bagi pengunjung yang ingin menghubungi penghuni kamar di hotel ini. Di tempat inilah deal berlangsung. '' Apakah anda serius? '' '' Saya serius '' Jawab wanita itu tegas. '' Berapa tarif yang anda minta? '' '' Setinggi tingginya..'' '' Mengapa? Petugas satpam itu terkejut sambil menatap wanita itu. '' Saya masih perawan '' '' Perawan? '' Sekarang petugas satpam itu benar benar terperanjat. Tapi wajahnya berseri. Peluang emas untuk mendapatkan rezeki berlebih hari ini.. Pikirnya '' Bagaimana saya tahu anda masih perawan?'' '' Gampang sekali. Semua pria dewasa tahu membedakan mana perawan dan mana bukan. Ya kan...'' '' Kalau tidak terbukti? '' Tidak usah bayar ...'' '' Baiklah ...'' Petugas satpam itu menghela napas. Kemudian melirik ke kiri dan ke kanan. '' Saya akan membantu mendapatkan pria kaya yang ingin membeli keperawanan anda. '' '' Cobalah. '' '' Berapa tarif yang diminta? '' '' Setinggi tingginya. '' '' Berapa? '' '' Setinggi tingginya. Saya tidak tahu berapa? '' '' Baiklah. Saya akan tawarkan kepada tamu hotel ini. Tunggu sebentar ya. '' Petugas satpam itu berlalu dari hadapan wanita itu. Tak berapa lama kemudian, petugas satpam itu datang lagi dengan wajah cerah. '' Saya sudah dapatkan seorang penawar. Dia minta Rp. 5 juta. Bagaimana? '' '' Tidak adakah yang lebih tinggi? '' '' Ini termasuk yang tertinggi, '' Petugas satpam itu mencoba meyakinkan. '' Saya ingin yang lebih tinggi...'' '' Baiklah. Tunggu disini ...'' Petugas satpam itu berlalu. Tak berapa lama petugas satpam itu datang lagi dengan wajah lebih berseri. '' Saya dapatkan harga yang lebih tinggi. Rp. 6 juta rupiah. Bagaimana? '' '' Tidak adakah yang lebih tinggi? '' '' Nona, ini harga sangat pantas untuk anda. Cobalah bayangkan, bila anda diperkosa oleh pria, anda tidak akan mendapatkan apa apa. Atau andai perawan anda diambil oleh pacar anda, andapun tidak akan mendapatkan apa apa, kecuali janji. Dengan uang Rp. 6 juta anda akan menikmati layanan hotel berbintang untuk semalam dan keesokan paginya anda bisa melupakan semuanya dengan membawa uang banyak. Dan lagi, anda juga telah berbuat baik terhadap saya. Karena saya akan mendapatkan komisi dari transaksi ini dari tamu hotel. Adilkan. Kita sama sama butuh ... '' '' Saya ingin tawaran tertinggi ... '' Jawab wanita itu, tanpa peduli dengan celoteh petugas satpam itu. Petugas satpam itu terdiam. Namun tidak kehilangan semangat. '' Baiklah, saya akan carikan tamu lainnya. Tapi sebaiknya anda ikut saya. Tolong kancing baju anda disingkapkan sedikit. Agar ada sesuatu yang memancing mata orang untuk membeli. '' Kata petugas satpam itu dengan agak kesal. Wanita itu tak peduli dengan saran petugas satpam itu tapi tetap mengikuti langkah petugas satpam itu memasuki lift. Pintu kamar hotel itu terbuka. Dari dalam nampak pria bermata sipit agak berumur tersenyum menatap mereka berdua. '' Ini yang saya maksud, tuan. Apakah tuan berminat? " Kata petugas satpam itu dengan sopan. Pria bermata sipit itu menatap dengan seksama kesekujur tubuh wanita itu ... '' Berapa? '' Tanya pria itu kepada Wanita itu. '' Setinggi tingginya '' Jawab wanita itu dengan tegas. '' Berapa harga tertinggi yang sudah ditawar orang? '' Kata pria itu kepada sang petugas satpam. '' Rp. 6 juta, tuan '' '' Kalau begitu saya berani dengan harga Rp. 7 juta untuk semalam. '' Wanita itu terdiam. Petugas satpam itu memandang ke arah wanita itu dan berharap ada jawaban bagus dari wanita itu. '' Bagaimana? '' tanya pria itu. ''Saya ingin lebih tinggi lagi ...'' Kata wanita itu. Petugas satpam itu tersenyum kecut. '' Bawa pergi wanita ini. '' Kata pria itu kepada petugas satpam sambil menutup pintu kamar dengan keras. '' Nona, anda telah membuat saya kesal. Apakah anda benar benar ingin menjual? '' '' Tentu! '' '' Kalau begitu mengapa anda menolak harga tertinggi itu ... '' '' Saya minta yang lebih tinggi lagi ...'' Petugas satpam itu menghela napas panjang. Seakan menahan emosi. Dia pun tak ingin kesempatan ini hilang. Dicobanya untuk tetap membuat wanita itu merasa nyaman bersamanya. '' Kalau begitu, kamu tunggu ditempat tadi saja, ya. Saya akan mencoba mencari penawar yang lainnya. '' Di lobi hotel, petugas satpam itu berusaha memandang satu per satu pria yang ada. Berusaha mencari langganan yang biasa memesan wanita melaluinya. Sudah sekian lama, tak ada yang nampak dikenalnya. Namun, tak begitu jauh dari hadapannya ada seorang pria yang sedang berbicara lewat telepon genggamnya. '' Bukankah kemarin saya sudah kasih kamu uang 25 juta Ripiah. Apakah itu tidak cukup? Terdengar suara pria itu berbicara. Wajah pria itu nampak masam seketika '' Datanglah kemari. Saya tunggu. Saya kangen kamu. Kan sudah seminggu lebih kita engga ketemu, ya sayang?! '' Kini petugas satpam itu tahu, bahwa pria itu sedang berbicara dengan wanita. Kemudian, dilihatnya, pria itu menutup teleponnya. Ada kekesalan diwajah pria itu. Dengan tenang, petugas satpam itu berkata kepada Pria itu: '' Pak, apakah anda butuh wanita ... ??? '' Pria itu menatap sekilas kearah petugas satpam dan kemudian memalingkan wajahnya. '' Ada wanita yang duduk disana, '' Petugas satpam itu menujuk kearah wanita tadi. Petugas satpam itu tak kehilangan akal untuk memanfaatkan peluang ini. '' Dia masih perawan..'' Pria itu mendekati petugas satpam itu. Wajah mereka hanya berjarak setengah meter. '' Benarkah itu? '' '' Benar, pak. '' '' Kalau begitu kenalkan saya dengan wanita itu ... '' '' Dengan senang hati. Tapi, pak ...Wanita itu minta harga setinggi tingginya.'' '' Saya tidak peduli ... '' Pria itu menjawab dengan tegas. Pria itu menyalami hangat wanita itu. '' Bapak ini siap membayar berapapun yang kamu minta. Nah, sekarang seriuslah ...'' Kata petugas satpam itu dengan nada kesal. '' Mari kita bicara dikamar saja.'' Kata pria itu sambil menyisipkan uang kepada petugas satpam itu. Wanita itu mengikuti pria itu menuju kamarnya. Di dalam kamar ... '' Beritahu berapa harga yang kamu minta? '' '' Seharga untuk kesembuhan ibu saya dari penyakit '' '' Maksud kamu? '' '' Saya ingin menjual satu satunya harta dan kehormatan saya untuk kesembuhan ibu saya. Itulah cara saya berterimakasih .... '' '' Hanya itu ...'' '' Ya ...! '' Pria itu memperhatikan wajah wanita itu. Nampak terlalu muda untuk menjual kehormatannya. Wanita ini tidak menjual cintanya. Tidak pula menjual penderitaannya. Tidak! Dia hanya ingin tampil sebagai petarung gagah berani ditengah kehidupan sosial yang tak lagi gratis. Pria ini sadar, bahwa dihadapannya ada sesuatu kehormatan yang tak ternilai. Melebihi dari kehormatan sebuah perawan bagi wanita. Yaitu keteguhan untuk sebuah pengorbanan tanpa ada rasa sesal. Wanta ini tidak melawan gelombang laut melainkan ikut kemana gelombang membawa dia pergi. Ada kepasrahan diatas keyakinan tak tertandingi. Bahwa kehormatan akan selalu bernilai dan dibeli oleh orang terhormat pula dengan cara-cara terhormat. '' Siapa nama kamu? '' '' Itu tidak penting. Sebutkanlah harga yang bisa bapak bayar ... '' Kata wanita itu '' Saya tak bisa menyebutkan harganya. Karena kamu bukanlah sesuatu yang pantas ditawar. '' ''Kalau begitu, tidak ada kesepakatan! '' '' Ada! Kata pria itu seketika. '' Sebutkan! '' '' Saya membayar keberanianmu. Itulah yang dapat saya beli dari kamu. Terimalah uang ini. Jumlahnya lebih dari cukup untuk membawa ibumu kerumah sakit. Dan sekarang pulanglah ... '' Kata pria itu sambil menyerahkan uang dari dalam tas kerjanya. '' Saya tidak mengerti ...'' '' Selama ini saya selalu memanjakan istri simpanan saya. Dia menikmati semua pemberian saya tapi dia tak pernah berterimakasih. Selalu memeras. Sekali saya memberi maka selamanya dia selalu meminta. Tapi hari ini, saya bisa membeli rasa terimakasih dari seorang wanita yang gagah berani untuk berkorban bagi orang tuanya. Ini suatu kehormatan yang tak ada nilainya bila saya bisa membayar ...'' '' Dan, apakah bapak ikhlas...? '' '' Apakah uang itu kurang? '' '' Lebih dari cukup, pak ... '' '' Sebelum kamu pergi, boleh saya bertanya satu hal? '' '' Silahkan ...'' '' Mengapa kamu begitu beraninya ... '' '' Siapa bilang saya berani. Saya takut pak ... Tapi lebih dari seminggu saya berupaya mendapatkan cara untuk membawa ibu saya kerumah sakit dan semuanya gagal. Ketika saya mengambil keputusan untuk menjual kehormatan saya maka itu bukanlah karena dorongan nafsu. Bukan pula pertimbangan akal saya yang `bodoh` ... Saya hanya bersikap dan berbuat untuk sebuah keyakinan ... '' '' Keyakinan apa? '' '' Jika kita ikhlas berkorban untuk ibu atau siapa saja, maka Allah lah yang akan menjaga kehormatan kita ... '' Wanita itu kemudian melangkah keluar kamar. Sebelum sampai di pintu wanita itu berkata: '' Lantas apa yang bapak dapat dari membeli ini ... '' '' Kesadaran...'' . . . Di sebuah rumah dipemukiman kumuh. Seorang ibu yang sedang terbaring sakit dikejutkan oleh dekapan hangat anaknya. '' Kamu sudah pulang, nak '' '' Ya, bu ... '' '' Kemana saja kamu, nak ... ???'' '' Menjual sesuatu, bu ... '' '' Apa yang kamu jual?'' Ibu itu menampakkan wajah keheranan. Tapi wanita muda itu hanya tersenyum ... Hidup sebagai yatim lagi miskin terlalu sia-sia untuk diratapi di tengah kehidupan yang serba pongah ini. Di tengah situasi yang tak ada lagi yang gratis. Semua orang berdagang. Membeli dan menjual adalah keseharian yang tak bisa dielakan. Tapi Allah selalu memberi tanpa pamrih, tanpa perhitungan ... '' Kini saatnya ibu untuk berobat ... '' Digendongnya ibunya dari pembaringan, sambil berkata: '' Allah telah membeli yang saya jual... ''. Taksi yang tadi ditumpanginya dari hotel masih setia menunggu di depan rumahnya. Dimasukannya ibunya kedalam taksi dengan hati-hati dan berkata kepada supir taksi: '' Antar kami kerumah sakit .. Sumber:suzuki

Monday, September 10, 2012

Permohonan Pinjaman Lunak

Assalamualikum Wr.Wb
Dengan Hormat, Bapak Duta Besar Malaysia yang saya mulyakan dan saya hormati,sebelumnya saya menghaturkan beribu-ribu maaf kepada Bapak Duta Besar dan jajaran atas kelancangan saya menulis surat ini kepada bapak. Adapun maksud dan tujuan saya menulis surat ini kepada Bapak Duta Besar adalah untuk mengajukan permohonan Pinjaman Lunak untuk membangun/merenovasi kembali rumah ibu saya yang baru beberapa hari tertimpa musibah bencana kebakaran. Ibu Saya Bernama Anah Suhanah,Beliau tinggal bersama adik saya di rumah peninggalan almarhum bapak saya.Alamat Rumah ibu saya: Kampung Cilendi Rt 03/Rw 01 Desa Kersagalih Kec. Jatiwaras Kab Tasikmalaya Jawa Barat. Sekedar informasi untuk Bapak Duta Besar,dana untuk membangun kembali rumah ibu saya yang terbakar tersebut diperkirakan sebesar 50 juta rupiah.Dan sebelum saya menulis email ke Bapak saya sudah mencoba mencari bantuan pinjaman kebeberapa orang/instansi termasuk bank bahkan ke Bapak Presiden lewat Email kesitus resmi Bapak Presiden tapi sampai saat ini saya belum mendapat tanggapannya.Padahal kondisi ibu saya dan adik saya kian hari kian memprihatinkan setelah rumah satu-satunya tempat ibu dan adik saya berteduh ludes terbakar dan hanya menyisakan puing.Saya Sadar sepenuh hati ketika orang ato lembaga seperti Bank menolak pengajuan Pinjaman yang saya ajukan mengingat saya dan keluarga tidak punya sesuatu yang bisa diagunkan sebagai jaminan selain badan sekujur. Tapi meski demikian saya akan tetap berusaha dan berdoa semoga Allah SWT memberikan kemurahannya kepada keluarga kami lewat perantara atau tangan siapapun yang mau menolong kami walaupun pertolongan itu dalam bentuk pinjaman yang harus kami kembalikan. Bapak Duta Besar Yang saya Hormati,Saya sebagai anak dari ibu saya yang rumahnya terbakar,sangat menaruh harapan besar kepada Bapak mentri atau jajarannya untuk membantu memberikan pinjaman untuk membangun rumah ibu saya kembali.Mungkin sebagai bahan pertimbangan untuk bapak Duta Besar dan Jajarannya..Saya bekerja sebagai wiraswasta dijakarta(berjualan Pulsa dan minuman es Jus) dan sudah beristri yang bekerja sebagai karyawati di sebuah Pabrik di Jakarta.Saya memiliki dua orang anak yang masih sekolah dasar.Dan dari penghasilan saya dan istri setelah dipotong biaya keperluan hidup sehari hari saya alhamdulillah masih bisa menyisihkan sedikit untuk masa depan anak -anak kami.Berdasarkan hal tersebut seandainya Bapak Duta Besar dan jajarannya berkenan untuk membantu kami,kami tidak mengaharapkan gratis,kami hanya membutuhkan pinjaman lunak sebesar 50 Juta rupiah untuk membangun/merenovasi rumah ibu saya yang terbakar dengan jangka waktu angsuran selama 10 tahun dengan cicilan sebesar 500 ribu perbulan.Uang untuk membayar cicilan tersebut insyaAllah akan selalu saya anggarkan dari uang yang biasa kami sisihkan setiap bulan untuk masa depan anak-anak kami.Saya rela meski anak-anak saya tak punya tabungan masa depan lagi karena uangnya di anggarkan untuk membayar cicilan ke Bapak Duta Besar,asalkan rumah ibu saya bisa dibangun kembali dan ibu saya bisa tersenyum kembali. Demikian hal yang ingin saya saya sampaikan ke Bapak atas atensi dan kebaikan hatinya saya haturkan terimakasih. Note : Nama Saya : Mumuh Alamat : Jl Gotong royong No 45 Rt 005/Rw 008 Kapuk Cengkareng Jakarta Barat Phone : 085716360970 Rek BCA :5600162464 atasnama mumuh alfiansyah Wassalamualaikum.Wr.Wb Hormat Saya, Mumuh

Tuesday, August 7, 2012

LOWONGAN !!!

Sebuah lowongan istimewa telah dipersiapkan sebelum alam ini diciptakan. Lowongan ini terbuka bagi semua orang tanpa pengecualian, tanpa melihat pengalaman kerja, tanpa ijazah, tanpa koneksi. Lowongan ini terbuka bagi semua pengangguran maupun yang sedang bekerja dengan latar belakang apapun, baik direktur, gubernur, tukang becak, perampok, koruptor, pembunuh, pendeta, kyai, para dermawan, dll. Setiap pelamar dijamin pasti diterima di salah satu posisi yang disediakan, bahkan yang tidak melamar sekalipun pasti diterima ! LOWONGAN DISEDIAKAN UNTUK 2 POSISI : A. Penghuni Syurga B. Penghuni Neraka UNTUK POSISI < A > DISEDIAKAN FASILITAS DAN KOMPENSASI SBB : Sebelum kandidat diberi fasilitas final berupa Syurga yang kekal abadi, kandidat dijamin akan memperoleh training outdoor dan indoor, berupa : 1. Nikmat kubur. 2. Jaminan perlindungan di Padang Mahsyar. 3. Keselamatan meniti Sirath-al mustaqim. Syurga memiliki berbagai kenikmatan yang tidak dapat dibandingkan dengan kenikmatan dunia. Rasulullah SAW bersabda : "Demi Allah, dunia ini dibanding akhirat ibarat seseorang yang mencelupkan jarinya ke laut; air yang tersisa di jarinya ketika diangkat itulah nilai dunia" (HR Muslim). Nikmat yang lebih indah dari syurga adalah 'merasakan' ridha Allah dan kesempatan merasakan 'wajah' Allah, inilah puncak segala kenikmatan, inilah kenikmatan yang tak mampu dibayangkan manusia, yaitu keindahan menikmati sifat-sifat dan kalam murni Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. UNTUK POSISI < B > DIPASTIKAN AKAN MENIKMATI BERAGAM KESEMPATAN DIBAWAH INI : Kandidat dipastikan mendapat berbagai fasilitas Neraka berupa alam terbuka dengan fasilitas pemanas ruangan yang bertemperatur sangat luar biasa panasnya. Bahkan bila sebutir pasir neraka dijatuhkan ke muka bumi maka mengeringlah seluruh samudera di muka bumi ini dan mendidihlah kutub es yang ada di muka bumi ini. Bahkan bila seseorang dikeluarkan dari dalamnya sekejab kemudian dipindahkan ke tumpukan api unggun yang menyala-nyala di muka bumi ini maka iapun akan merasa lega. Neraka sangat luas, jadi para pelamar posisi ini tidak perlu khawatir tidak kebagian tempat. Para pelamar posisi ini juga tak perlu khawatir segera mati kalau dibakar, karena tubuh kita akan dibuat sedemikian rupa hingga mampu memuai kalau dibakar (seperti kerupuk bila digoreng). Rasulullah SAW bersabda : "Di neraka gigi seorang kafir akan (memuai) hingga sebesar gunung Uhud, dan (tebal) kulitnya membentang sejauh tiga hari perjalanan" (diriwayatkan oleh Abu Hurairah, HR Muslim). Dalam hadits lain, Rasulullah saw bersabda, "Neraka dipegang oleh tujuh puluh ribu tali, dan setiap talinya di pegang oleh tujuhpuluh ribu malaikat" M (HR Muslim). Rasulullah SAW bersabda : "Allah mempunyai malaikat yang jarak antara kedua belah matanya adalah sepanjang seratus tahun perjalanan" (Abu Daud, Ibn Hanbal). Oh, ya. Fasilitas ini juga meliputi makanan gratis yang mampu membakar isi perut, minuman yang mampu membocorkan usus serta fasilitas kolam renang gratis yang berisi nanah dan darah. Beberapa pembantu gratis juga disiapkan untuk menyayat lidah orang-orang yang suka menyakiti hati orang lain, maupun menyeterika perut orang-orang yang tidak membayar zakat. Selain fasilitas tersebut, para kandidat akan melewati masa training yang lamanya mencapai ribuan tahun, yaitu : 1. Training indoor didalam kubur berupa siksa kubur dan 'hidup' dalam kesengsaraan ditemani ular dan makhluk aneh lainnya serta wajah-wajah buruk selama bertahun-tahun hingga ribuan tahun di alam barzakh tergantung kualitas amal ibadahnya dan dosa-dosa yang ia lakukan. 2. Training outdoor dilakukan di padang Mahsyar selama ribuan tahun, dalam suasana kepanikan dan huru-hara yang luar biasa. Bapak, ibu, anak dan saudara-saudara kita tak mampu menolong kita karena setiap orang sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Bahkan para nabipun tidak mampu menolong, kecuali Nabi Muhammad SAW yang akan menolong umatnya yang rajin bersholawat padanya. SYARAT-SYARAT PELAMAR : - Tidak diperlukan ijazah - Tidak diperlukan koneksi atau uang sogok. - Tidak perlu bawa harta - Tidak perlu berwajah cantik, ganteng, berbadan tegap atau seksi. Cukup membawa dokumen asli dari keimanan dan amal karya Anda sendiri. WAKTU WAWANCARA : Wawancara tahap 1, dilakukan 7 langkah setelah pelayat terakhir meninggalkan kuburan Anda. Sabda Rasulullah SAW: "Sesungguhnya bila jenazah seseorang diletakkan di dalam kubur,maka jenazah itu mendengar suara sandal orang-orang yang mengantarnya ke kuburan pada saat mereka meninggalkan tempat itu (hadist hasan yang diriwayatkan oleh Ahmad Hanbal). Perlu diketahui jadwal wawancara Anda ini sudah ditentukan sejak roh ditiupkan ke tubuh Anda semasa dalam kandungan ibu. Wawancara tahap 2 : Hanya Allah lah yang tahu. LOKASI DAN LAMA WAWANCARA Wawancara tahap I, dilakukan di dalam kubur (alam barzakh) selama beberapa menit hingga ribuan tahun tergantung posisi yang dilamarnya. Wawancara tahap II, dilakukan pada hari penghisaban (hari perhitungan) selama beberapa hari hingga ribuan tahun tergantung posisi yang dilamarnya. Dalam salah satu haditsnya Rasulullah pernah bersabda bahwa jarak waktu masa pengadilan antara orang-orang kaya dan orang-orang miskin adalah 500 tahun. Berbahagialah Anda yang miskin selama di dunia, yang memiliki sedikit harta untuk diminta pertanggungjawabannya (karena sebutir nasi yang Anda buang akan diminta pertanggungjawabannya). PEWAWANCARA : Wawancara tahap I, dilakukan oleh Malaikat Mungkar dan Nakir. Wawancara tahap II, dilakukan langsung oleh sang Penguasa Hari Kemudian WAWANCARA HANYA BERISI 6 PERTANYAAN : 1. Siapa Tuhanmu ? 2. Apa agamamu ? 3. Siapa nabimu? 4. Apa kitabmu? 5. Dimana kiblatmu ? 6. Siapa saudaramu? Sungguh 6 pertanyaan yang sangat mudah, tapi sayangnya tidak bisa dihapal dari sekarang karena keimanan dan amal kitalah yang akan menjawabnya.. CARA MELAMAR : Sekalilagi, ini benar-benar rekrutmen yang sangat istimewa, tidak perlu melamar, siapa saja dijamin diterima, bahkan untuk melamarpun Anda akan dijemput secara khusus. Dijemput oleh makhluk sekaliber malaikat yang bernama Izroil. Ia akan menjemput anda kapan dan dimana saja (bisa jadi sebentar lagi). BENARKAH LOWONGAN INI ? Simaklah hadits dibawah ini, sesungguhnya terlalu banyak rahasia alam ini yang tidak mampu kita ketahui, apalagi mengenai akhirat. Rasulullah SAW bersabda : "Sesungguhnya aku mampu melihat apa yang tak sanggup kalian lihat. Kudengar suara gesekan dilangit (berkriut-kriut), langit sedemikian padatnya, tak ada tempat kosong bahkan seluas empat jari sekalipun karena langit dipenuhi para malaikat yang sedang bersujud kepada Allah SWT. Demi Allah ! Sekiranya kalian mengetahui apa yang aku ketahui (tentang akhirat), niscaya kalian tidak akan pernah tertawa sedikitpun, bahkan kalian pasti akan banyak menangis (karena takut). Dan niscaya kalian tidak akan pernah bisa bersenang-senang dengan istri-istri kalian, dan niscaya kalian akan keluar berhamburan ke jalan-jalan (berteriak) untuk memohon (ampun) dan memanjatkan doa kepada Allah (meminta perlindungan dari bencana akhirat) yang akan Dia timpakan" ( HR Tirmidzi & Al-Bukhari) Sementara jutaan Malaikat dengan penuh rasa takut dan hormat sedang bersujud kepada Allah, dan sementara Malaikat peniup Sangkakala sudah siap di depan trompetnya sejak alam ini diciptakan, sementara itu pula masih banyak diantara kita yang masih terlena dengan dunia ini. Tidak sadar ia bahwa dirinya sedang masuk dalam program penerimaan lowongan yang ada di akhirat. MAU MELAMAR KE POSISI B ? Mudah saja, hiduplah sesuka anda.

Monday, August 6, 2012

Cinta Pada Akhirnya...

Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki : Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri. Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka. Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku. Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku. Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya. Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami. Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku. Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi. Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya. “Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut. Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??” “Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu. Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah. Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas. Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis. Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara. Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku. Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya. Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku. Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya. Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku. Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia. Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku. Istriku Liliana tersayang, Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu. Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang. Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku. Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy! Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note. Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta. Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi. Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?” Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.” Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?” Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.” Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus. Sumber Bundaiin/blogdetik

Wednesday, August 1, 2012

Jurus Menabung

Harga barang-barang kebutuhan pokok yang terus naik tanpa dibarengi kenaikan pendapatan bisa membuat anda makin kesulitan dalam menabung. Apalagi, Bank Indonesia (BI) baru saja menurunkan tingkat suku bungan acuan alias BI Rate menjadi 5,75%. Itu berarti tingkat suku bunga tabungan kita di bank pun berpotensi diturunkan. Tapi jangan harap bunga kredit bisa turun, apalagi mencapai single digit alias di bawah 10%. Dalam situasi seperti sekarang ini, anda harus lebih pintar lagi menyimpan uang, kalau bisa tanpa sadar anda bisa menabung secara otomatis. Berikut ini adalah 5 Tips untuk menyimpan uang tanpa anda sadari, seperti dikutip dari Investopedia : 1. Jalankan Pilot Otomatis Anda Salah satu trik untuk membiasakan diri dalam menambung adalah menempatkan simpanan di atas segala. Jadi, begitu tagihan bulanan datang, jangan langsung menyusun daftar yang harus dibayar. Tapi sisihkan sebagian uang untuk anda simpan terlebih dahulu. Dengan begitu, setelah anda menyusun seluruh daftar tagihan dan menyiapkan uangnya, secara tidak sadar anda sudah punya uang untuk disimpan, kalau ternyata tagihannya tidak terlalu banyak. Tapi, jika ternyata tagihannya cukup banyak, anda bisa mengambil sebagian uang yang sudah anda simpan pertama kali. Cara lain yang bisa dilakukan adalah meminta kepada bank anda, jika memungkinkan, untuk memisahkan sebagian uang anda ke akun terpisah setiap bulan setelah gajian. Dengan begitu, anda tidak akan sadar akan jumlah uang yang anda simpan meski jumlahnya sudah menggunung. Jumlah yang harus disisihkan tidak perlu terlalu besar. Hanya dengan Rp 200 ribu per bulan, anda akan punya Rp 2,4 juta dalam setahun, tanpa anda sadari. 2. Simpan Kembalian Masih ingat waktu anda belajar menabung dari uang receh jaman masih bocah? Tidak ada salahnya untuk mengulang kembali kebiasaan ini. Mulailah dengan mengosongkan uang receh di dompet anda setiap akhir minggu, taruhlah di tempat yang sudah disiapkan. Anda bisa melibatkan keluarga juga dalam melakukan tabungan kecil ini. Apalagi jika anda punya anak, kebiasaan menyimpan uang ini sangat bagus, karena si kecil akan menghargai uang meski itu nilainya kecil. Jika tabungannya mulai penuh, tukar uang receh di bank terdekat atau tempat penukaran uang lainnya. Jika anda melakukan hal ini secara rutin, bukan tidak mungkin dalam satu tahun nilainya bisa menembus jutaan tanpa anda sadari. Dengan begitu, anda juga akan lebih menghargai uang recehan dibandingkan sebelumnya. 3. Jangan Di ingat-ingat Kalau Anda Sudah Naik Gaji Gaji anda naik? Selamat! Tapi, sebelum anda tidak berpikir waras dan ingin segera belanja sesuatu, sebaiknya anda tidak perlu mengingat-ngingat kalau anda baru saja naik gaji. Sebaiknya anda masukan selisih gaji baru ini ke dalam tabungan seperti yang disebutkan dalam poin pertama tadi. Sehingga, uang yang anda sisihkan setiap bulan jumlahnya makin bertambah tebal. Hal ini agak susah dilakukan jika gaji yang naik hanya rutin tahunan, tapi jika gaji yang naik karena promosi anda bisa leluasa mengatur tabungan anda. Akan lebih baik lagi jika selisih gaji baru tersebut bisa anda simpan untuk dana darurat atau bahkan dana pensiun. 4. Jalankan Kebiasaan Jika akhirnya anda sudah selesai membayar cicilan mobil yang butuh waktu bertahun-tahun, jangan mulai cari kredit lain, tetapi tetap sisihkan uang yang sama untuk masuk langsung ke tabungan anda. Kebiasaaan kredit anda bisa diubah menjadi kebiasaan menabung. Bahkan, anda bisa memasukan kredit ini ke tabungan otomatis yang sudah diminta kepada bank, seperti sudah disinggung pada poin awal tadi. Bayangkan anda masih punya utang untuk melunasi mobil, sehingga uang tersebut akan tersimpan dengan baik tanpa anda sadari. 5. Simpan "Harta Karun" Kita semua pasti pernah mengalami hal ini, menemukan uang di lokasi atau benda yang kadang kita lupa. Contohnya, seperti menemukan Rp 50 ribu di saku jaket lama, atau bahkan di ransel yang dulu dipakai untuk liburan. Jangan langsung anda habiskan 'harta karun' seperti ini, sebaiknya anda simpan baik-baik di tabungan anda. Anggaplah sebagai dana kejutan untuk tambahan tabungan. Tapi jika anda masih tergoda untuk membelanjakan uang tersebut, ada baiknya dibagi dua saja, setengah untuk jajan, setengahnya lagi ditabung. Dengan begini, anda masih bisa menyiapkan dana untuk masa depan dan tetap bisa bersenang-senang dengan membelanjakan 'harta karun' tersebut. Kesimpulan : Menabung atau menyimpan uang tidak perlu dibuat sulit. Dengan beberapa tips ini, anda bisa menabung tanpa harus merasa terbebani, bahkan anda tidak akan sadar jumlahnya begitu besar hanya dalam waktu singkat.

Saturday, July 14, 2012

Negri Para Buaya

Terlalu sering kita melihat akhir-akhir ini, rakyat menjerit-jerit meminta sebuah kebijaksanaan dari para pemimpinnya, tetapi tetap saja mereka memalingkan wajah seolah acuh dan tak mau mendengarkan keluhan dan harapannya, bahkan untuk sekedar melihat saja sepertinya merekan sungkan karena mungkin mereka merasa tak mampu untuk bisa memberi solusi yang sedang terjadi dan di alami oleh rakyatnya,... Beribu tangsis melengking disana-sini meminta dan bahkan rakyat harus berteriak-teriak hanya untuk mengatakan "bagaimana ini terjadi". dengan penuh ketidak pedulian dan di tambah lagi dengan sikap acuhnya mereka membangun sejuta tembok untuk menghalau demo yang mengancam citranya, Sesekali, hanya sesekali saja mereka melihat itupun karena kebetulan mengusap pundak menengok kesebelah kiri atau kanan bukan sepenuhnya melihat dan menengok ke kiri atau kekanan untuk melihat dan mendengarkan keluhan dari rakyanya. padahal dari pencitraannya yang di bangun sebegitu megah dan sebegitu mahal mereka (penguasa) selalu mengiklankan diri seraya berkata "saatnya memberi kesejahteraan bukan kesengsaraan". alah bullshit.. ternyata mereka hanya berkoar-koar untuk mendapatkan jatah lebih dari sejuta suara setelah mereka jadi penguasa lari tunggang langgang menjauh dari pertanggung jawaban, mereka bilang bawahanya tak becus, mereka bilang bawahanya jangan diam saja, mereka bilang semua sudah terkordinasi, mereka bilang tolong akan di selesaikan, mereka bilang kita cukup prihatin, mereka bilang lagi-lagi rakyat harus hati-hati dan pintar menjaankan aturan, mereka bilang bla-bla, bilang saja kalau mereka sebenarnya lagi bingung, Haach".... sampai kapan wahai penguasa yang sibuk dengan pencitraanya kami harus diam dan bersabar menunggu jawaban yang pasti dari kalian, haruskah kami merasakan lutut dan kaki kami bersujud sampai dengkul ini hanya tinggal tulang dengan darah bercucuran, karena terlalu sering berjongkok menghamba meminta kalian mendengarkan keluhan kami... Selayaknya penguasa memberi solusi yang pasti bukan janji yang hanya melahirkan keraguan kamuflase, di mata kami sebagai rakyat yang telah memilihmu, selayaknya pula penguasa memberi jalan yang terbaik dan lurus bukan jalan yang berbelok seperti labirin yang sesekali kami harus merasakan berbagai penderitaan dari kebijakan yang sekiranya membuat kami merasa terancam dan terkesan menjadi kelinci percobaan, Pemimpin/penguasa bukan Tuhan yang sedang memberi cobaan, penguasa adalah panutan yang harus bijak dan secepatnya memberi isyarat bahwa permasalahan yang ada dapat terselesaikan dengan segera bukan di tunda-tunda. Penguasa bukan orang yang sedang memperlihatkan penderitaan dan memimta pertolongan tentang solusi dengan megeluh kepada rakyatnya. Kalian penguasa seperti membisu ketika satu peristiwa terjadi, atau bahkan menjadi tuli ketika satu kebijakan yang lagi-lagi menjadi sebuah percobaan gagal, kalian penguasa seolah buta malas melihat acuh menyapa ketika satu peristiwa menjadi buah bibir yang memerahkan daun telinga karna kegagalan program yang di jalankanya. Hampir lebih satu dekade semenjak The Founding Fahers membangun bangsa ini, sepertinya tak ada lagi pemimpin yang benar-benar memanjakan rakyatnya, padahal mereka berjuang dengan mengorbankan darah dan jiwanya bahkan hartanya, untuk sebuah kepentingan atas nama kebersamaan, kesejahteraan dan kemakmuran bahkan kemerdekaan bagi dan untuk rakyatnya, pantas saja semua yang ada dijaman sekarang tidak terlalu bisa untuk di harapkan karena penguasa di jaman sekarang berjuang dengan uang untuk mendapatkan kekuasaaan dan kursi empuk yang katanya terasa nyaman, jadi pantas saja mereka tak mau rugi karena semua di lalui dengan uang yang selalu konotasinya berbau tanpa keikhlasan. Mereka seperti berjudi apa yang sudah di beli harus kembali, persetan dengan program lepas satu atau dua periode tinggal lempar saja kepada pemimpin yag akan datang. Fuuach.... rasa-rasanya kita seperti mencium bau amis bila yang terjadi adalah demikian, karena bagaimana mungkin mengharapakan kebaikan dari para pemimpin yang hanya mementingkan kekuasaan. kekuasaan dan kursi yang mereka miliki sekarang tak lebih dari sebuah kue black forest cake sementara, yang ada adalah menghidar dari kewajiban untuk mengurusi dan mengayomi. Dan mereka memposisikan bahwa keluhan rakyat adalah keluhan bau bangkai yang menganga yang harus di hindari atau bahkan di jauhi seraya menutup hidup dan memejamkan mata karena sungkan untuk melihat dan merasakan. Lagi dan lagi, kita harus bersabar untuk berharap dan menunggu datangnya dan adanya pemimpin yang mempunyai: Kredibilitasnya, Personalitasnya, Integritasnya, Profesionalitasnya, dan Loyalitasnya hanya untuk di dedikasikan kepentingan rakyatnya, bukan kepentingan individu atau bahkan golongan, lagi dan lagi kita harus menunggu datangnya pemimpin yang tak gemar mengiklankan diri untuk membangun pencitraan, lagi dan lagi kita harus berdoa bahwa pemimpin itu masih ada untuk kita, membela untuk berjuang kita, bertanggung jawab untuk kita sebagai rakyatnya yang telah memilih. kita sudah muak dengan adanya pemimpi macan ompong yang hanya diam ketika ada sebuah gertakan, kita sudah muak pemimpin yang berbicara bak layaknya diplomat dengan mengkhiaskan permasalahn menadjadi perumpamaan, dan sekali lagi kita sadar dan tak butuh pemimpin yang jual asesoris pencitraan, yang kita butuhkan adalah pemimpin yang butuh pengorbanan bukan tuli ataupun bisu bukan bukan pula buta atau acuh menyapa, yang kita butuhkan adalah pemimpin yang mau mendengar dan mau bertindak. Semoga masih ada..